Sudah Mau Ramadhan, Perlukah Check-Up Kesehatan Sebelum Puasa?

wordpress
Jakarta – Menjaga kesehatan tubuh merupakan hal yang penting dilakukan, terutama di bulan Ramadhan agar tubuh tetap kuat untuk melakukan berbagai aktivitas seharian selama berpuasa. Apalagi, di masa pandemi seperti saat ini di mana banyak terjadi perubahan gaya hidup lantaran mobilitas yang semakin terbatas, sehingga risiko penyakit tidak menular pun menjadi turut meningkat. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan seseorang adalah melalui pemeriksaan kesehatan yang bisa dilakukan dengan mengunjungi dokter.

Sebelum bulan puasa dimulai, perlukah melakukan pemeriksaan medis?

Menurut dokter spesialis penyakit dalam, dr Imelda Maria Loho, SpPD, dari Rumah Sakit Pondok Indah Puri Indah, bulan Ramadhan tidak bisa dijadikan patokan bahwa seseorang harus meningkatkan frekuensi pemeriksaan kesehatannya. Hanya saja, bagi orang-orang yang telah cukup lama tidak melakukan pemeriksaan kesehatan, maka sebelum bulan Ramadhan dimulai, dr Imelda menyarankan untuk segera melakukan pemeriksaan kesehatan tersebut. “Namun, bila sudah cukup lama tidak melakukan pemeriksaan kesehatan, misalnya dalam satu tahun terakhir belum melakukan pemeriksaan kesehatan, maka sebaiknya sebelum bulan Ramadhan dilakukan pemeriksaan kesehatan,” kata dr Imelda dalam diskusi online, Kamis (8/4/2021). Bentuk pemeriksaan kesehatan yang bisa dilakukan sebelum menyambut bulan suci Ramadhan dapat berupa pemeriksaan gula darah dan lemak darah. Pasalnya, diabetes yang tidak terdeteksi memerlukan penanganan secepat mungkin. “Jangan sampai ketika bulan Ramadhan kemudian mengalami komplikasi diabetes, seperti gula darah yang tiba-tiba drop, atau mungkin gula darah yang terlalu tinggi karena mungkin saat berbuka terlalu banyak makan yang manis-manis,” jelasnya. Sementara itu, pemeriksaan lemak darah diperlukan lantaran saat berpuasa nanti, masyarakat sering kali mengonsumsi makanan yang lebih bervariasi, sehingga kerap membuat kalap. Dengan mengetahui kadar lemak darahnya terlebih dahulu, maka risiko sulit mengontrol diri saat makan ini diharapkan bisa dihindari. “Nah, bila memang ada kadar lemak darah yang tinggi dan di atas normal, tentunya seseorang tersebut akan membatasi dan menjaga makannya selama bulan Ramadhan agar jangan sampai (lemak darah) terlalu tinggi,” katanya.
Apabila dari hasil pemeriksaan tersebut diperlukan pengobatan lebih lanjut, maka tidak perlu menunggu selesai bulan Ramadhan untuk menjalani pengobatan. Pasalnya, kata dr Imelda, pengobatan untuk diabetes dan lemak darah dapat dikonsumsi selama puasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.